Kekayaan alam Tana Toraja begitu hebat karunia dari Tuhan, bila dikelola dengan baik
Traveling Celebes - Kekayaan alam Tana Toraja begitu hebat karunia dari Tuhan, bila dikelola dengan baik oleh tangan terampil orang Toraja sendiri, alamat menuju pertumbuhan ekonomi daerah ini terus melaju tidak kalah dari daerah lainnya.
Begitu bersarnya perhatian pemerintah Pusat majukan pariwisata Toraja setelah Bali, apalagi setelah ditunjang dengan hadirnya bandar udara pariwisata, lalu saya audiens dengan Wakil Presiden H.Yusuf Kalla bahas pengembangan pariwisata Tana Toraja yang ditunjang dengan pembangunan semua aspek, jelas bupati Theofilus Allorerung Senin bulan maret lalu di Makale.
Tehofilus sebutkan, tahun 2015 ini Tana Toraja menerima kucuran dana dari Pusat sebesar Rp.100 milyar untuk pelebaran dan peningkatan jalan sementara dalam proses tender, sebab menuju pasar bebas kita tidak bisa menolak masyarakat asing masuk diwilayah kita.

Utamanya menjelang Lovely Desember 2015 bulan lonjakan wisman dan wisnus berkunjung ke Toraja, semua infra struktur dan persiapan lainnya layaknya kita sudah persiapkan.
Apalagi setelah menerima petunjuk dari Bapak Wapres bupati Tana Toraja segera kordinasi Kementrian Kehutanan perioritaskan repitalisasi hutan sebab Toraja menara air, untuk menunjang ketahanan pangan produksi beras di wilayah Bugis, hutan sebagai paru-paru dunia perlu dijaga kelestariannya utamanya dihulu Toraja, sebut Theofilus.
Demikian pula hasil kordinasi dengan Kementrian PU, dengan hadirnya infra struktur jalan lebar dan baik seperti jalan ke Agro Wisata Pango-Pango dan Burake sebuah energi mengantar nama Toraja ke dunia internasional.
Apalagi setelah komoditi kopi Toraja menjadi idola dikonsumsi para wisatawan manca negera, makanya untuk menambah daya tarik akan dibangun gasebo warung kopi (Warkop) di tengah kebun kopi milik masyarakat.
Bagitu besarnya perhatian Pusat pariwisata Tana Toraja, sambung Theofilus, masyarakat Tana Toraja saatnya rubah manset agar lebih kreatif, jangan turis berkunjung didaerah ini hanya selalu masuk goa dan menyaksikan kerbau di tebas lehernya (tinggoro), kondisi ini membosankan wisatawan, sehingga kuatnya energi alam butuh sentuhan tangan terampil utamanya orang Toraja sendiri untuk kembangkan kekayaan alam menuju industri lebih besar.
Begitu bersarnya perhatian pemerintah Pusat majukan pariwisata Toraja setelah Bali, apalagi setelah ditunjang dengan hadirnya bandar udara pariwisata, lalu saya audiens dengan Wakil Presiden H.Yusuf Kalla bahas pengembangan pariwisata Tana Toraja yang ditunjang dengan pembangunan semua aspek, jelas bupati Theofilus Allorerung Senin bulan maret lalu di Makale.
Tehofilus sebutkan, tahun 2015 ini Tana Toraja menerima kucuran dana dari Pusat sebesar Rp.100 milyar untuk pelebaran dan peningkatan jalan sementara dalam proses tender, sebab menuju pasar bebas kita tidak bisa menolak masyarakat asing masuk diwilayah kita.

Utamanya menjelang Lovely Desember 2015 bulan lonjakan wisman dan wisnus berkunjung ke Toraja, semua infra struktur dan persiapan lainnya layaknya kita sudah persiapkan.
Apalagi setelah menerima petunjuk dari Bapak Wapres bupati Tana Toraja segera kordinasi Kementrian Kehutanan perioritaskan repitalisasi hutan sebab Toraja menara air, untuk menunjang ketahanan pangan produksi beras di wilayah Bugis, hutan sebagai paru-paru dunia perlu dijaga kelestariannya utamanya dihulu Toraja, sebut Theofilus.
Demikian pula hasil kordinasi dengan Kementrian PU, dengan hadirnya infra struktur jalan lebar dan baik seperti jalan ke Agro Wisata Pango-Pango dan Burake sebuah energi mengantar nama Toraja ke dunia internasional.
Apalagi setelah komoditi kopi Toraja menjadi idola dikonsumsi para wisatawan manca negera, makanya untuk menambah daya tarik akan dibangun gasebo warung kopi (Warkop) di tengah kebun kopi milik masyarakat.
Bagitu besarnya perhatian Pusat pariwisata Tana Toraja, sambung Theofilus, masyarakat Tana Toraja saatnya rubah manset agar lebih kreatif, jangan turis berkunjung didaerah ini hanya selalu masuk goa dan menyaksikan kerbau di tebas lehernya (tinggoro), kondisi ini membosankan wisatawan, sehingga kuatnya energi alam butuh sentuhan tangan terampil utamanya orang Toraja sendiri untuk kembangkan kekayaan alam menuju industri lebih besar.
COMMENTS