Untuk menikmati keindahan bawah laut Pulau Cangke seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias yang cantik
TravelingCelebes - Indonesia terkhusus Provinsi Sulawesi Selatan telah di anugrahkan berbagai potensi wisata alam mulai dari darat hingga alam laut. Salah satunya Pulau cangke Kabupaten Pangkajenne Kepulauan Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan.
Selain itu, Pulau cangke tersebut merupakan salah satu pulau spermonde di antara 120 yang tersebar di sebelah barat jazirah Sulawesi Selatan yakni pada gugusan pulau-pulau kecil yang membentang dari kabupaten Takalar di selatan.Dalam hal Ini pulau yang masing-masing memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.

Luas Pulau Cangke adalah 10 kilometer persegi. Pulau Cangke merupakan salah satu tempat bagi penyu-penyu untuk bertelur. Selama 2 bulan setiap tahun, penyu-penyu tersebut akan berdatangan untuk bertelur di Pulau Cangke. Keindahan Pulau Cangke bukan hanya di daratnya saja yang sangat teduh karena adanya pepohonan yang tumbuh di pulau ini, tetapi juga pemandangan indah yang ada di dasar lautnya.
Untuk menikmati keindahan bawah laut Pulau Cangke seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias yang cantik, wisatawan mampu melakukannya dengan diving atau snorkeling. Bahkan pada saat air surut, wistawan hanya cukup berjalan kaki untuk menengok keindahan bawah lautnya.

Tidak hanya itu, wistawan akan diu suguhkan dengan hamparan pasir putih dan gradasi warna laut yang indah. Dalam hal ini para wiastawan akana akan disambut oleh pasir pantai berwarna putih yang terhampar mengelilingi sepanjang garis pantai. Dari setiap sudut pantainya, dan akan memanjakan mata. Selain itu wisatawan akan dapat menikmati perairan dangkal berwana biru muda yang sangat jernih. Inilah karakter pulau-pulau di gugusan kepulauan Spermonde tersebut tepatnya pulau cangke.
Menariknya lagi, pada destinasi wisata bahari tersebut terkuak kisah romatis, yang tidak kalah dramtisnya dengan kisah-kisah romantis lainnya (Romeo-juliet, Rama-Sinta). Dalam hal ini kisah romantis Daeng Abu dan Maidah.
Alkisah, Daeng Abu mengasingkan diri ke pulau Cangke karena penyakit kusta yang di deritanya. Dulu penyakit kusta dianggap sebagai sebuah kutukan. Daeng Abu berasal dari Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, saat itu beliau berumur sekitar 20 tahunan. Disaat orang-orang tidak menerima keberadaannya, Maidah sang istri tetap setia menemaninya hingga saat ini.

Daeng Abu kini sudah renta dan tidak bisa melihat dengan jelas, begitupun dengan Maidah. Namun walaupun begitu semangatnya untuk tetap menjaga kelestarian pulau Cangke masih tetap menggebu. Daeng Abu lah yang membuat pulau Cangke dari hanya sebuah pulau kering kerontang menjadi seperti sebuah oase ditengah udara lautan yang panas. Pada saat-saat tertentu dimana waktu musim penyu bertelur tiba, beliaulah yang akan memastikan telur-telur itu menetas dan melahirkan generasi baru binatang laut yang mulai terancam ini.
Baca : Kesetian Pasangan Suami Istri di Pulau Cangke
Meski hidup dengan penuh keterbatasan dan terasing di sebuah pulau di laut selat makassar, Daeng Abu dan Maidah tidak larut dalam kesedihan. Apapun yang terjadi kehidupan harus terus berlanjut dengan tetap semangat dan terus bersyukur. Mungkin bagi Daeng Abu dan Maidah, harta yang paling berharga itu adalah kasih sayang tulus diantara mereka.
Dengan demikian, selain dapat menikmati keindahannya para pengunjung pun mendapatkan pelajaran hidup yang berharga tentang keteguhan hati seorang Daeng Abu yang di asingkan, tentang kesetiaan Maidah yang sabar mendampingi suaminya,serta tentang ketulusan menjaga alam dan tentang kasih sayang tulus diantara mereka. (mimi)
Selain itu, Pulau cangke tersebut merupakan salah satu pulau spermonde di antara 120 yang tersebar di sebelah barat jazirah Sulawesi Selatan yakni pada gugusan pulau-pulau kecil yang membentang dari kabupaten Takalar di selatan.Dalam hal Ini pulau yang masing-masing memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.

Pulau Cangke Pangkep
Adapun letak geografis wisata alam tersebut cukup strategis dari pusat ibu kota Makassar. Dalam hal ini jarak tempuh dari Pelabuhan Poetere Makassar ke Pulau Cangke memakan waktu kisaran 2 jam 30 menit dengan berkendara perahu tradisional yang kerap disebut Jolloro atau Katitinting.Luas Pulau Cangke adalah 10 kilometer persegi. Pulau Cangke merupakan salah satu tempat bagi penyu-penyu untuk bertelur. Selama 2 bulan setiap tahun, penyu-penyu tersebut akan berdatangan untuk bertelur di Pulau Cangke. Keindahan Pulau Cangke bukan hanya di daratnya saja yang sangat teduh karena adanya pepohonan yang tumbuh di pulau ini, tetapi juga pemandangan indah yang ada di dasar lautnya.
Untuk menikmati keindahan bawah laut Pulau Cangke seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias yang cantik, wisatawan mampu melakukannya dengan diving atau snorkeling. Bahkan pada saat air surut, wistawan hanya cukup berjalan kaki untuk menengok keindahan bawah lautnya.
Tidak hanya itu, wistawan akan diu suguhkan dengan hamparan pasir putih dan gradasi warna laut yang indah. Dalam hal ini para wiastawan akana akan disambut oleh pasir pantai berwarna putih yang terhampar mengelilingi sepanjang garis pantai. Dari setiap sudut pantainya, dan akan memanjakan mata. Selain itu wisatawan akan dapat menikmati perairan dangkal berwana biru muda yang sangat jernih. Inilah karakter pulau-pulau di gugusan kepulauan Spermonde tersebut tepatnya pulau cangke.
Menariknya lagi, pada destinasi wisata bahari tersebut terkuak kisah romatis, yang tidak kalah dramtisnya dengan kisah-kisah romantis lainnya (Romeo-juliet, Rama-Sinta). Dalam hal ini kisah romantis Daeng Abu dan Maidah.
Alkisah, Daeng Abu mengasingkan diri ke pulau Cangke karena penyakit kusta yang di deritanya. Dulu penyakit kusta dianggap sebagai sebuah kutukan. Daeng Abu berasal dari Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, saat itu beliau berumur sekitar 20 tahunan. Disaat orang-orang tidak menerima keberadaannya, Maidah sang istri tetap setia menemaninya hingga saat ini.
Daeng Abu kini sudah renta dan tidak bisa melihat dengan jelas, begitupun dengan Maidah. Namun walaupun begitu semangatnya untuk tetap menjaga kelestarian pulau Cangke masih tetap menggebu. Daeng Abu lah yang membuat pulau Cangke dari hanya sebuah pulau kering kerontang menjadi seperti sebuah oase ditengah udara lautan yang panas. Pada saat-saat tertentu dimana waktu musim penyu bertelur tiba, beliaulah yang akan memastikan telur-telur itu menetas dan melahirkan generasi baru binatang laut yang mulai terancam ini.
Baca : Kesetian Pasangan Suami Istri di Pulau Cangke
Meski hidup dengan penuh keterbatasan dan terasing di sebuah pulau di laut selat makassar, Daeng Abu dan Maidah tidak larut dalam kesedihan. Apapun yang terjadi kehidupan harus terus berlanjut dengan tetap semangat dan terus bersyukur. Mungkin bagi Daeng Abu dan Maidah, harta yang paling berharga itu adalah kasih sayang tulus diantara mereka.
Dengan demikian, selain dapat menikmati keindahannya para pengunjung pun mendapatkan pelajaran hidup yang berharga tentang keteguhan hati seorang Daeng Abu yang di asingkan, tentang kesetiaan Maidah yang sabar mendampingi suaminya,serta tentang ketulusan menjaga alam dan tentang kasih sayang tulus diantara mereka. (mimi)
COMMENTS